Vol 18 No 1 (2026): Jurnal Farmasi Indonesia (inpress)

					Lihat Vol 18 No 1 (2026): Jurnal Farmasi Indonesia (inpress)

mceclip0-4dd1f098b8ffbdb829782f30fd9522b0.png

JFI Online Volume 18 Nomor 1, Januari 2026

Diterbitkan: 30-01-2026

Artikel

  • Gambaran Pola Penggunaan Antipsikotik Pada Pasien Skizofrenia Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat

    Entris Sutrisno, Yani Mulyani, Jajang Japar Sodik
    1-9
    Abstrak: 13 | PDF 1-9: 1

    Abstract

    Indonesia mengalami peningkatan kasus gangguan mental yang mengkhawatirkan setiap tahunnya. Pada tahun 2019, Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa lebih dari 20 juta orang di seluruh dunia menderita skizofrenia. Obat antipsikotik merupakan pilihan pengobatan utama untuk skizofrenia, karena membantu mengurangi gejala psikotik dan menurunkan kemungkinan berkembangnya gangguan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan penggunaan obat antipsikotik pada pasien skizofrenia di bangsal rawat inap Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif non-eksperimental dengan pengumpulan data retrospektif. Data sekunder digunakan untuk analisis. Penelitian ini memfokuskan pada 194 rekam medis pasien yang menerima pengobatan antipsikotik antara Januari hingga Desember 2020. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 56,19% obat antipsikotik yang diresepkan adalah obat kombinasi, sementara 43,81% adalah obat tunggal. Kombinasi obat antipsikotik yang paling umum adalah haloperidol-klosapin, yang mencapai 36,60% dari resep, dan risperidon, sebagai obat tunggal, mencapai 19,67% dari resep

  • Aktivitas Antioksidan dan Profil Fitokimia Ekstrak Metanol Daun Bauhinia purpurea L. dari Pekanbaru

    Haiyul Fadhli, Hefriza Putri
    10-18
    Abstrak: 2 | PDF 10-18: 0

    Abstract

    Antioksidan merupakan komponen bioaktif penting yang berperan dalam menetralkan radikal bebas dan mencegah kerusakan oksidatif pada sel. Tanaman Bauhinia purpurea L., yang dikenal secara lokal sebagai daun kupu-kupu, telah dilaporkan mengandung berbagai senyawa fenolik dan flavonoid dengan potensi aktivitas antioksidan yang menjanjikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kandungan fitokimia dan aktivitas antioksidan ekstrak metanol daun Bauhinia purpurea L. yang dikumpulkan dari Pekanbaru. Skrining fitokimia menunjukkan keberadaan flavonoid, fenolik, terpenoid, steroid, dan alkaloid. Kadar total fenolik dan flavonoid masing-masing sebesar 50,79 ± 1,82 mg GAE/g dan 59,10 ± 13,03 mg QE/g ekstrak. Aktivitas antioksidan diukur menggunakan metode DPPH menghasilkan nilai IC₅₀ sebesar 67,58 µg/mL, menunjukkan aktivitas antioksidan sedang. Hasil ini mengindikasikan bahwa daun Bauhinia purpurea dari Pekanbaru memiliki potensi sebagai sumber antioksidan alami yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan produk herbal dan farmasi. Faktor geografis dan metode ekstraksi berperan penting dalam menentukan kandungan bioaktif dan aktivitas antioksidan ekstrak.

  • Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Kale Hijau dan Ungu (Brassica oleracea L.)

    Umiyuliatul Nurfarida, Martina Kurnia Rohmah, Yani Ambari
    19-29
    Abstrak: 1 | PDF 19-29 (English): 0

    Abstract

    Kale (Brassica oleracea L.) merupakan tanaman. dari famili Brassicaceae  yang sering dikonsumsi oleh masyarakat. Daun kale mengandung vitamin C, senyawa fenolik, dan pigmen yang berpotensi sebagai antioksidan. Daun kale yang sering dikonsumsi masyarakat adalah kale hijau dan kale ungu. Penelitian.. ini bertujuan.. untuk mengetahui perbandingan antioksidan antara kale hijau dan kale ungu dengan metode... DPPH. Serbuk simplisia daun kale hijau dan ungu dimaserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Hasil ekstraksi kemudian diuji kandungan fitokimianya secara kualitatif menggunakan skrining fitokimia. Aktivitas.. antioksidan. diuji secara kualitatif dan kuantitatif menggunakan metode. DPPH. Hasil menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan yang dilihat dari nilai IC50 dari Vitamin C, ekstrak. etanol kale ungu, dan kale hijau. Berturut-turut adalah 3.19, µg/ml (antioksidan sangat kuat), 100.03 µg/ml (antioksidan kuat), dan 144.35 µg/ml (antioksidan sedang). Aktivitas antioksidan daun Kale ungu yang lebih kuat dibandingkan dengan daun Kale hijau.

  • Aktivitas Antioksidan Krim Hidrofilik Ekstrak Metanol Bunga Cempaka Putih (Magnolia alba)

    Ni Nyoman Yudianti Mendra, Dewa Ayu Yunika Pratiwi, Debby Juliadi
    30-35
    Abstrak: 1 | PDF 30-35 (English): 0

    Abstract

    Bunga cempaka putih (Magnolia alba) memiliki makna budaya bagi masyarakat Bali, yaitu digunakan dalam upacara keagamaan, hiasan pengantin, dan memperkaya aroma dupa. Selain kegunaan tersebut, bunga cempaka putih mengandung alkaloid, steroid, terpenoid, flavonoid, dan fenol yang beraktivitas antioksidan. Dengan demikian sangat menarik untuk menentukan aktivitas antioksidan dari ekstrak metanol bunga cempaka putih yang diformulasikan ke dalam krim minyak dalam air (m/a) dalam penelitian ini.. Ekstrak metanol bunga cempaka putih diformulasikan ke dalam tiga formula krim, FI, FII, dan FIII, dengan konsentrasi masing-masing 4, 8, dan 12%. Aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH (2,2-Difenil-1-Pikrilhidrazil) dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 516 nm. Aktivitas antioksidan berdasarkan nilai IC50 untuk FI, FII, dan FIII adalah 29,72 µg/ml, 25,50 µg/ml, dan 25,05µg/ml, sedangkan nilai IC50 antioksidan pembanding, vitamin C, adalah 2,93 µg/ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krim m/a ekstrak metanol bunga cempaka putih memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat secara in vitro. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi kemampuan formula ini dalam memperlambat mekanisme penuaan akibat paparan cahaya matahari melalui studi in vivo.

  • Kepuasan Pasien Covid-19 terhadap Layanan Konseling Obat Jarak Jauh oleh Apoteker: Sebuah Studi Lintas Sektoral

    Fonny Cokro, Yenni Ferlia, Hadiyanto Usman
    36-45
    Abstrak: 0 | PDF 36-45 (English): 0

    Abstract

    Telemedicine telah digunakan secara luas sejak pandemi COVID-19. Namun, interaksi non-tatap muka membuat layanan telemedicine menjadi lebih menantang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kepuasan layanan konseling obat yang diberikan oleh apoteker melalui telemedicine di Jakarta, Indonesia; dan menilai korelasi antara jenis telemedicine dan penyediaan layanan konseling obat oleh apoteker. Penelitian ini bersifat cross-sectional, dan data dikumpulkan pada bulan Februari-Mei 2022 melalui metode sampling Cluster dan Snowballing. Chi-Square digunakan untuk mengukur hubungan model telemedicine dengan pemberian konseling obat. Dari 448 responden, sebanyak 85,71% mendapatkan konseling, dengan kinerja konseling apoteker bernilai baik sebesar 64,06-98,18%. Lebih dari 80% responden merasa puas pada seluruh aspek kepuasan. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara jenis telemedicine dengan layanan konseling obat (p=0,032). Penelitian ini menyoroti pentingnya mengoptimalkan pendekatan telemedicine untuk meningkatkan pelayanan pasien dalam layanan farmasi.

  • Analisis Cost of Illness Pasien Covid-19 di Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta Barat

    Sherly Tandi Arrang, Irene Fira Rosa, Dion Notario
    46-53
    Abstrak: 0 | PDF 46-53: 0

    Abstract

    COVID-19 merupakan penyakit yang muncul pertama kali ota Wuhan, China pada tahun 2019 dan kasus pertama di Indonesia terdeteksi pada Maret 2020. Peningkatan kasus terjadi dengan cepat dan memerlukan penanganan yang serius sehingga menimbulkan beban ekonomi. Analisis beban ekonomi penyakit COVID-19 perlu dilakukan. Analisa biaya pada penelitian ini menggunakan metode Cost Of Illness (COI). Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif, dengan data periode Desember 2020- Juli 2021 dari Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan Jakarta Barat. COI dihitung dari biaya medis langsung pasien. Metode analisis yang digunakan adalah Regresi Linier Berganda menggunakan aplikasi Rstudio. Jumlah responden adalah 138 pasien. Pada hasil analisa didapatkan total rata-rata biaya medis langsung pasien rawat inap COVID-19 berdasarkan usia yaitu Rp. 6.580.657 (0-5 tahun), Rp. 8.317.592 (6-18 tahun), Rp. 8.595.254 (19-30 tahun), Rp. 11.787.268 (31-45 tahun), Rp. 12.537.695 (46-59 tahun), dan Rp. 16.250.460 (>60 tahun). Berdasarkan jenis kelamin Rp. 12.416.202 (perempuan) dan Rp. 11.285.017 (laki-laki). Berdasarkan lama rawat inap yaitu Rp. 7.881.911 (<7 hari), Rp. 12.721.150 (7-14 hari), dan Rp. 26.282.724 (>14 hari). Berdasarkan tingkat keparahan yaitu Rp. 10.096.730 (ringan), Rp. 10.633.881 (sedang), dan Rp. 16.597.570 (berat). Berdasarkan penyakit komorbid yaitu Rp. 16.981.774 (tanpa komorbid), Rp. 19.670.640 (1 komorbid), Rp. 22.990.759 (2 komorbid), dan Rp. 30.231.603 (>2 komorbid). Berdasarkan hasil uji pengaruh, terdapat pengaruh signifikan antara lama rawat inap, tingkat keparahan, dan penyakit komorbid terhadap biaya medis langsung (P<0,05), sedangkan tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara usia dan jenis kelamin terhadap biaya medis langsung perawatan pasien rawat inap COVID-19 (P>0,05).

  • Analisis Komparatif Sosiodemografi Terhadap Kepatuhan Penggunaan Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi RSUD Puri Husada Tembilahan

    Husnawati Husnawati, Erniza Pratiwi, Yellia Syafitri, Cindy Oktaviana Laia, Reni Zulfitri
    54-66
    Abstrak: 0 | PDF 54-66: 0

    Abstract

    Hipertensi merupakan suatu kondisi terjadinya peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg. Pengobatan hipertensi ditujukan untuk menurunkan probabilitas kesakitan, komplikasi dan kematian pada penderitanya. Dalam hal ini kepatuhan penggunaan antihipertensi merupakan suatu hal yang penting, karena hipertensi tidak dapat disembuhkan namun harus selalu dikontrol agar dapat dikendalikan dan menghindari terjadinya komplikasi yang dapat menyebabkan kematian. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kepatuhan minum obat pada pasien adalah sosiodemografi pasien meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan status pekerjaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh sosiodemografi terhadap kepatuhan penggunaan antihipertensi pada pasien hipertensi di RSUD Puri Husada Tembilahan. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan penelitian cross sectional dengan metode deskriptif analitik. Sampel pada penelitian ini adalah pasien dengan diagnosa utama hipertensi dengan atau tanpa penyakit penyerta yang berobat ke RSUD Puri Husada Tembilahan pada saat dilaksanakannya penelitian dan memenuhi kriteria inklusi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dari 4 aspek sosiodemografi yang diteliti yaitu usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan status pekerjaan, hanya tingkat pendidikan yang mempengaruhi tingkat kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi (nilai P = 0,000), dimana responden dengan tingkat pendidikan tinggi memiliki tingkat kepatuhan yang lebih tinggi dibandingkan responden dengan tingkat pendidikan rendah.